Selasa, 25 Oktober 2011

LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK

SIGNALEMENT

Tanggal diterima : 21 Oktober 2010

Pemilik : Rohani

Alamat pemilik : jalan kampus unud

Spesies : anjing local

Jenis kelamin : betina

Nama hewan : bingo

BB/umur : 12kg/ 10 bulan

Pemeriksa : kelompok 5

Veterinarian : DR. Drh. IBK Ardana, M.Kes

ANAMNESA

Spesimen berupa darah diambil dari anjing lokal betina, berumur 10 bulan dengan berat badan 12 kg. Anjing milik Rohani ini tidak menunjukkan gejala sakit ketika darahnya diambil. Menurut keterangan pemilik, semua anjing yang dipelihara, semuanya diberi pakan berupa pakan khusus anjing yaitu dog food dan minumnya diberikan air mineral.

KEADAAN UMUM DAN GEJALA KLINIS

Keadaan umum yang terlihat jelas adalah anjing ini terlihat kurus, lesu, rambut kusam, banyak luka-luka kecil, mata sebelah kanan banyak terdapat tai mata, membrane mukosanya pucat, respirasi napasnya cepat, dan adanya ektoparasit seperti caplak dan pinjal.

MATERI DAN METODE

Materi yang diperiksa untuk melakukan pemeriksaan hematologi rutin di laboratorium adalah darah anjing yang diberi antikoagulan EDTA (Ethylene Diamine Tetra Acetic).

I. LAJU ENDAP DARAH (METODE WESTERGREEN)

Alat dan Bahan

  1. sampel darah
  2. tabung westergreen
  3. rak westergreen
  4. antikoagulan

Prosedur Kerja

  1. darah dengan antikoagulansia dihisap ke dalam tabung westergreen sampai tanda 0.
  2. Lubang atas dari tabung ditutup dengan jari, kemudian ditempatkan pada rak westergreen dengan posisi vertical dan ditempatkan pada suhu kamar (27oC)
  3. Permukaan atas dari kolom eritrosit dibaca setelah satu jam atau lebih tergantung sampel darah yang diperiksa.

II. PENENTUAN NILAI HEMATOKRIT(METODE HEMATOKRIT)

Hematokrit terdiri dari kata haime (darah) dan kreanin (memisahkan). Jadi hematokrit berarti pemisahan darah dengan melakukan pemusingan (centrifuge) menjadi tiga bagian yaitu :

  1. Sel darah merah (eritrosit) yang terdapat paling bawah yang disebut dengan PCV (Packed Cell Volume)
  2. Lapisan putih kelabu yang terdiri dari leukosit dan trombosit yang terdapat tepat diatas eritrosit yang disebut dengan “Buffy Coat”
  3. Plasma darah, cairan paling atas.

Metode hematokrit menggunakan pipet hematoktit kapiler dengan panjang 7 cm dan diameter 1,0 mm. pipet tersebut sudah dilengkapi dengan antikoagulan sehingga dapat langsung digunakan melalui penusukan kapiler.

Alat dan bahan :

1. Sampel darah

2. Pipet mikrohematokrit

3. Penutup malam

4. Pemusing mikrohematokrit

5. Mikrohematokrit reader

Prosedur kerja :

1. Darah dengan antikoagulansia dimasukkan ke dalam pipet mikrohematokrit sekitar 6/7 bagian pipet

2. Tutup ujung masuknya darah dengan penutup khusus atau malam

3. Letakkan pipet mikrohematokrit pada pemusing mikrohematokrit yang mempunyai kecepatan tinggi

4. Pusingkan dengan kecepatan

5. Baca nilai PCV yang diperoleh pada alat baca khusus (Microhematocrit reader)

III. Kadar hemoglobin (Metode Hematin)

Alat dan bahan :

Ø Sampel darah

Ø Gelas standar warna coklat

Ø Tabung hemometer dengan skala gram % dan %

Ø Pipet Sahli berupa kapiler dengan volume 20 mm3

Ø Pengaduk dari gelas

Ø Pipet Pasteur

Ø Reagen HCl 0,1 N dan aquadest

Prosedur kerja :

1. Tabung hemometer diisi dengan larutan HCl 0,1 N sampai tanda 2 gram %

2. Darah dengan antikoagulansia diisap dengan pipet sahli sampai tepat pada tanda 20 ammo

3. Bagian luar dari pipet dibersihkan dengan kertas tissue dengan catatan tidak sampai menghisap darah dalam pipet

4. Darah segera dimasukkan dengan hati-hati kedalam tabung hemometer yang berisi larutan HCl 0,1 tanpa menimbulkan gelembung udara

5. Sebelum dikeluarkan , pipet dibilas dengan menghisap dan meniup HCL yang ada dalam tabung beberapa kali. Bagian luar pipet juga dibilas dengan beberapa tetes aquadest

6. Ditunggu 10 menit untuk pembentukkan asam hematin (95%).

7. Asam hematin ini diencerkan dengan aquadest tetes demi 1 tetes sambil diaduk sampai warnanya sama dengan warna coklat pada gelas standart

8. Miniskus bawah dari larutan dibaca dalam skala 9%.

IV. Perhitungan eritrosit dan leukosit (Hemositometer)

Alat dan bahan :

1. Sampel darah

2. Hemositometer

3. HCL

4. Larutan pengencer (hayem dan larutanTurk)

5. Kamar hitung

6. Mikroskop

Prosedur kerja :

1. Kamar hitung dipersiapkan, gelas penutup diletakkan diatas kamar hitung sehingga menutupi kedua daerah penghitung

2. Darah dengan antikoagulansia diisap dengan pipet eritrosit sampai tanda 0,5. Bila melampaui batas darah dikeluarkan dengan menyentuh-nyentuh ujung pipet dengan ujung jari. Bagian luar pipet dihapus dengan kertas tissue.

3. Segera larutan pengencer diisap sampai tanda 101. Selama penghisapan pipet harus diputar-putar melalui sumbu panjangnya supaya daerah dengan larutan hayem tercampur dengan baik.

4. Kedua ujung pipet ditutup dengan ibu jari dan jari tengah lalu dikocok dengan gerakan tegak lurus pada sumbu panjangnya selama dua menit.

5. Larutan pengencer yang terdapat dibagian dalam kapiler dan yang tidak mengandung darah dibuang dengan meneteskan sebanyak 3 tetes.

6. Larutan darah dimasukkan kedalam kamar hitung dengan menempatkan ujung pipet pada tepi gelas penutup. Karena daya kapiler maka larutan darah akan mengalir masuk antara gelas penutup dengan kamar hitung. Larutan darah tidak boleh terlalu banyak.

7. Kamar hitung yang sudah berisi larutan darah diletakkan dibawah mikroskop dan penghitungan dilakukan dengan obyektif 45x

8. Dilakukan penghitungan sebagai berikut :

Ø Dihitung jumlah sel darah yang terdapat pada 5 bidang yang ditempuh dengan luas masing-masing 1/25 mm2

Ø Sel yang menyinggung garis batas sebelah kiri dan sebelah bawah tidak dihitung.

Ø Cara menghitung harus sistematik

Ø Dilakukan kalkulasi sebagai berikut :

Misalkan jumlah eritrosit yang terdapat pada kelima bidang tersebut adalah N, jumlah volume kelima bidang tersebut adalah 5/250 mm3. Jadi tiap-tiap mm3 terdapat (1:5/250) X N = 250 : 5 N= 50 N eritrosit, dengan pengenceran 200x. Maka jumlah eritrosit tiap mm3 adalah 50 N x 200 = 10.000 N. Untuk penghitungan teliti dilakukan dua kali penghitungan pada kedua kamar hitung.

V. HAPUSAN DARAH DAN PEWARNAAN

Alat dan bahan


Ø Sampel darah dan antikoagulans

Ø NaCl fisiologis

Ø Cat giemsa

Ø Xylol dan metil alkohol atau methanol

Ø Buffer fosfat

Ø Kaca benda (obyec glass)

Ø penutup (cover glass

Ø Mikroskop dan minyak imersi

Prosedur kerja

I. Sediaan natif darah

1. Sediakan satu kaca benda yang bersih dari lemak dan teteskan NaCl fisiologis 1/4 tetes di atasnya, kemudian testeskan darah 1/5 tetes (atau celupkan batang korek api kedalam darah aduklah dengan ujung pipet atau batang korek. Tutup dengan kaca penutup.

2. Letakkan di bawah mikroskop (posisi mikroskop tidak boleh miring) amati dengan pembesaran 10X, 250X dan 400X. Apa yang saudara lihat (gambar sel darah merah dan putih 1-3 sel dan mikroorganisme bila ada)

II. Sediaan apus darah

a. Teknis pembuatan sediaan apus darah

1. Siapkan dua gelas benda yang bersih dari lemak/minyak (bersihkan dengan kertas tissue yang dibasahi dengan alkohol 70%)

2. Teteskan darah dengan lidi di ujung kanan (1,5 cm dari tepi kanan) pada gela benda 1, dan pegang gelas benda tersebut dengan ibu dan telunjuk jari tangan kiri saudara pada keua ujungnya. Kemudian pegang gelas benda ke 2 dengan ibu dan telunjuk jari tangan kanan saudara. Lalu salah satu ujung datar gelas benda ke-2 tersebut diletakkan pada sebelah kiri tetesan darah tadi membentuk sudut 30o ( ingat makin besar sudut, makin tebal sidiaan apusnya). Lihat Gambar 1 dibawah ini!

3. Tarik gelas benda ke-2 tersebut ke kanan sampaimenyentuh tetesan darah, hentikan dan tunggu sampai darah merata keseluruh sudut gelas. Bila sudah rata segera dorong gelas ke-2 (gelas yang ditangan kanan) tersebut tanpa mengangkatnya, maka akan terbentuklahlapisan atau atau sediaan apus darah yang tipis.

4. Sediaan apus dikeringkan di udara bebas (atau kipas-kipaskan), lalu diwarnai dengan Giemsa.


I

II

Gambar Cara membuat sediaan apus darah

b. Teknis pewarnaan Giemsa

1. Masukan/rendam atau tetesi sediaan apus darah yang kering dengan metilalkohol untuk fiksasi selam 5 menit.

2. Angkat dan keringkan di udara (kipas-kipaskan). Bila sudah kering taruh di atas rak bak pencuci, dan tetesi dengan cat Giemsa sampai merata di atas apus darah, tunggu 30 menit.

3. Sediaan dicuci dengan air mengalir dari kran atau pipet sehingga cat Giemsanya bersih.

4. Keringkan di udara bebas (kipas-kipaskan) atau biasa diisap dengan kertas tissu secara pelan dan hati-hati. Bila telah kering dapat dilihat dibawah mikroskop dengan kebesaran 1000X (apus darah ditetesi minyak imersi (pakai lidi)

PEMBAHASAN

I. Laju endap darah

Laju endap darah merupakan pengukuran dalam millimeter pengendapan darah selama 1 jam. Laju endap darah dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran ertrosit, konsentrasi eritrosit, komposisi plasma darah, antikoagulansia yang digunakan, temperature, dan keadaan tabung seperti posisi, panjang dan diameter tabung.

Dari hasil pemeriksaan kami jumlah LED mengalami kenaikan,yaitu 68 mm/jam, sedangkan diketahui kadar LED anjing 5-25 mm/jam. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan).Peningkatan kadar : artirits reumatoid, demam rematik, MCI akut, kanker (lambung, kolon, payudara, hati, ginjal), penyakit Hodgkin, mieloma multipel, limfosarkoma, endokarditis bakterial, gout, hepatitis, sirosis hati, inflamasi panggul akut, sifilis, tuberkulosis, glomerulonefritis, penyakit hemolitik pada bayi baru lahir (eritroblastosis fetalis), SLE, kehamilan (trimester kedua dan ketiga). Pengaruh obat : Dextran, metildopa (Aldomet), metilsergid (Sansert), penisilamin (Cuprimine), prokainamid (Pronestyl), teofilin, kontrasepsi oral, vitamin A. Faktor yang meningkatkan LED : kehamilan (trimester kedua dan ketiga), menstruasi, obat (lihat pengaruh obat), keberadan kolesterol, fibrinogen, globulin, peningkatan suhu, kemiringan tabung.

II. Pocked Cell Volume (PCV) = VPRC (Volume of Packed Red Cell)

Merupakan volume (prosentase atau L/L) sel darah merah yang dimampatkan melalui sentrifugasi terhadap volume darah. Alat yang dipakai adalah tabung Wintrobe atau mikrohematokrit.Nilai PCV pada hewan bervariasi sesuai dengan jenis dan pola makan, seks, lingkungan, latihan dll. Hasil yang kelompok kami dapat pada PCV anjing yaitu 20%. Secara normal kandungan pada beberapa hewan sbb. sapi 43% (0.43 L/L), sapi bali 39-40%, kuda 34%, anjing 46%, domba 43%, babi 42%, kucing 40% dan manusia (laki) 42%, perempuan 33%.

Berikut ini gambaran darah dari beberapa hewan

Hewan

Eritrosit

Leukosit (%)

Diameter (pm)

Total (juta)

Total

N

L

M

E

B

Anjing

6

7

12.5

70

20

5.2

4

0

Kucing

5.5

7.9

16

60

32

3

5.5

0

Sapi

4.5

6.3

8

28

58

1-4

9

0.5

Domba

4

9.5

7.5

30

62

2-7

5

0.5

Kambing

5.5

14

9

36

56

2.5

5

0.5

Kuda

4-8

9

9-17

50

40

4.5

4

0.5

Babi

10-13

7.4

11-22

37

39-62

5

3.5

0.5

Ayam

2-3

19-30

25

62

9

2

2

Man lk

5-6

Man wn

4-5

Kadar nilai PCV yang rendah atau menurun menandakan anjing tersebut mengalami anemia.

III. Kadar Hemoglobin

Hb adalah suatu zat warna (pigmen) dari butir darah merah, mengandung zat besi (Fe) dan protein. Protein tersebut adalah globin yaitu suatu histone. Warna merah dari Hb disebabkan oleh adanya heme yaitu gugusan metal dengan Fe sebagai inti atom pada pusat molekul porphyrin. Butir retikulosit mengandung Ribonucleic Acid (RNA) mempunyai kemampuan untuk membantu mensintesa Hb. Namun mekanismenya belum diketahui secara pasti. Jumlah Hb dalam darah dinyatakan dengan g/100 ml darah = gram % yang diukur dengan alat hemoglobinimeter (hemometer), atau dapat juga dengan spektrophotometer. Pada kebanyakan mamalia secara normal kandungan Hb-nya berkisar antara 12-18 g/100 ml darah kecuali pada sapi yang sedang menyusui (11-15 g/100 ml). Pada Hb anjing yang kami lihat hasilnya yaitu 8,9 gr/100ml. ini jauh dari batas normal, hal ini sudah jelas terlihat dari gejala klinis yang ada yaitu mukosanya pucat, lesu, keadaan bulu kusam berarti anjing ini mengalami anemia.

Hb berikatan dengan O2 membentuk HbO2 . O2 juga bereaksi dengan Fe2+ di dalam heme. Afinitas Hb terhadap O2 dipengaruhi oleh pH, suhu, dan konsentrasi 2,3 difosfatgliserat (2,3-DPG), 2,3 DPG dan H+ berkompetisi dengan O2 untuk reaksi deoksigenasi Hb dapat menurunkan afinitas Hb terhadap O2 dengan jalan menempatkan posisi yang aman dari 4 rantai peptida. Bila darah mendapat berbagai obat dan bahan oksidasi lainnya secara in vitro maupun in vivo maka Fe2+ dalam molekul akan dirubah menjadi Fe3+ yang membentuk methemoglobin dengan warna gelap dan bila methemoglobin itu terlalu banyak dalam peredaran darah dapat menyebabkan suatu kerusakan pada kulit karena terjadinya cyanose (darah banyak mengandung CO2 ). Bila CO dari udara masuk ke dalam darah dan bergabung dengan Hb maka CO itu akan mendesak keluar O2 karena afinitas CO 200 kali lebih besar dari O2 dan hal ini akan mempengaruhi suplai O2 ke berbagai otot daging. Dalam keadaan serius hal ini mengakibatkan kematian dalam waktu 30 – 60 menit.

IV. Penghitungan eritrosit dan leukosit

Butir darah merah mamalia dalam peredarannya tidak berinti, kecuali pada golongan unggas (berinti). Bentuknya bikonkaf, bulat seperti piring, diameter dan tebalnya bervariasi (4 – 13 m), tergantung dari jenis dan status nutrisinya. Butir darah merah membawa Hb dalam peredaran darah. Intinya menghilang sebelum masuk ke peredaran darah. Pada manusia, butir darah merah berumur rata-rata sampai 120 hari. Jumlah butir darah merah dalam keadaan normal rata-rata 5,4 dan 4,8 juta/mikroliter berturut-turut pada laki-laki dan perempuan. Setiap butir darah merah manusia berdiameter 7,5 mikron dan 2 mikron tebalnya yang masing-masing mengandung ± 29 gram% Hb (untuk orang dewasa terdapat kira-kira 3 x 1013 butir darah merah dan 900 g Hb).

Hewan yang menderita anemia , eritrosit yang masih berinti terdapat dalam peredaran darahnya yang terdiri dari 1 – 3 % butir darah merahnya adalah etikulosit. Jumlah itu akan meningkat lebih banyak lagi bila sumsum tulangnya lebih aktif dalam memproduksi butir darah merah. Semasih foetus, butir darah merah berinti diproduksi di dalam sakus yolk. Kemudian hati dan limpa adalah organ-organ yang membentuk butir darah merah itu. Namun, setelah lahir (mamalia) sumsum tulang (dalam keadaan normal) adalah satu-satunya organ pembentuk butir darah merah (erythropoiesis). Pada unggas sumsum tulangnya merupakan tempat utama produksi butir darah merah tetapi limpa memproduksi sedikit butir darah tersebut. Dalam keadaan sakit tertentu maka hati dan limpa tidak mampu bekerja sebagai erythropoiesis. Pada sumsum tulang pembentukan darah merah berlangsung secara terus menerus seimbang dengan jumlah butir darah merah yang mengalami kehancuran. Oleh sebab itu, jumlah butir darah merah dalam sirkulasi darah tidak banyak fluktuasinya. Butir darah merah itu tidak bergerak tetapi mungkin masuknya ke dalam berbagai pembuluh kapiler dengan proses yang hampir sama dengan diapedesis yaitu masuk tanpa merusak dinding kapiler.

Butir darah dari berbagai jenis hewan atau ternak dewasa mengandung 62 – 72 % air. Jadi butir darah merah tersebut mengandung ± 35 % bahan padat. Dari jumlah itu 95 %-nya adalah Hb yang berfungsi untuk mengangkut O2 ke jaringan dan mengangkut CO2 dari jaringan ke paru-paru. Sedangkan 5 % bahan padat lainnya terdiri atas protein pada stroma dan membrana sel; lemak seperti fosfolipid (lesitin, sefalin, sphingomilin), kolesterol dan lemak alami; berbagai vitamin yang berfungsi sebagai coenzym, gula untuk energi, berbagai enzim seperti kolinesterase, fosfatase, karbonokanhidrase, peptidase dan berbagai mineral seperti P, S, Cl, Mg, K, dan Na. Diameter butir darah merah mamalia (kambing) berkisar antara 4 – 7 mikron. Jumlah butir darah merah di dalam darah sangat penting karena dapat dipakai untuk mendiagnose anemia pada hewan atau ternak. Jumlah butir darah merah dari beberapa jenis hewan adalah sebagai berikut: sapi, kambing, kucing, ayam adalah 6 – 8, 13 – 14, 6 – 8, 2.5 – 3.2 juta/mm3 secara berturut-turut.

Jumlah butir darah putih dalam peredaran darah jauh lebih rendah dibandingkan butir darah merah. Dalam keadaan terinfeksi oleh berbagai bakteri, butir darah putih terutama neutrofil bertambah jumlahnya dengan pesat, sedangkan pada panyakit yang disebabkan oleh virus menyebabkan jumlahnya berkurang. Biasanya butir darah putih yang ditemukan dalam darah dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu granulosit (bergranula dalam sitoplasmanya) dan agranulosit. Dengan pewarnaan, granulosit dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu neutrofil (netral), eosinofil (asam), dan basofil (basa). Sedangkan agranulosit ada dua macam yaitu limfosit dan monosit yang berfungsi mempertahankan tubuh dari serangan penyakit (tumor, virus, bakteri, dan infeksi parasit). Umur butir darah putih tidak mudah mengetahuinya, tetapi telah dicoba oleh para akhli untuk memperkirakan umur limfosit dan granulosit dalam peredaran darah dan didapatkan antara 1 – 4 hari pada hewan. Sedangkan pada manusia granulosit dilaporkan berumur 9 hari.

Diferensiasi jenis leukosit (Differensial Count) ialah hitung jenis sel darah putih terhadap semua total leukosit (100 sel). Dengan identifikasi sel darah putih, dilakukan penghitungan semua sel leukosit (limfosit, monosit, neutrofil, basofil, dan eosinofil) di area tengah pada apus darah sampai 100 sel. Dari 100 sel ini berapa jumlah masing-masing sel dan itulah prosentasenya.

Dari pemeriksaan kami jumlah eritrosit yan g di dapat adalah 8,9 x103/µl, dan itu menandakan normal, karena kisaran eritrosit yang normal adalah 6-17 x 103 /µl. sedangkan jumlah leukosit yang didapat yaitu 3,01 x 106 µl, dam itu menandakan penurunan karena kisaran leukosit yang normal adalah 5,5 – 8,5 x106 µl. kekurangan leukosit dalam sel darah disebut leukemia. Leukopenia bisa disebabkan sumsum tulang mengalami gangguam. Sum-sum tulang merupakan produsen sel darah putih. Jika sum-sum tulang bermasalah, otomatis jumlah sel darah putih akan mengalami gangguan juga.

V. Hapusan Darah dan Pewarnaan

Pengamatan yang kami lihat terhadap sel darah putih, baik terhadap leukosit agranulosit dan leukosit granulosit terlihat jelas dengan pembesaran 100x pada mikroskop dengan di tetesi minyak imersi. Pengamatan pertama yaitu limfosit, dengan ciri-ciri punya nukleus yang heterokromatik atau nama lainnya bersifat polimorfonuklir yakni seluruh dari intinya mempunyai gambaran granular atau intinya yang multipel (granulosit), dikelilingi sejumlah sitoplasma kecil yang basofilik (biru), dan persentase normal pada darah putih sekitar 30 %.

Fungsi limfosit yaitu dalam sistem kekebalan tubuh dan merupakan sel memori dalam tubuh. Sedangkan pada monosit dengan ciri-ciri nukleus berbentuk seperti ginjal atau mirip tapal kuda, sitoplasma yang mengambil warna basofilik sama halnya dengan limfosit, inti mempunyai 3 lobus/nukleolus, kadang-kadang terlihat memiliki pseudopodia, dan persentase normal dalam darah putih sekitar 5,3 %. Fungsi monosit yaitu sebagai pertahanan tubuh terhadap infeksi mikroorganisme, fagositosis, respon imun, sekresi, dan proses penyembuhan luka. Kedua hal diatas tidak kami temukan adanya plasma dan merupakan golongan leukosit agranulosit.

Pengamatan berikutnya tentang neutrofil (sel polymorphonuclear), dengan ciri-ciri inti bergelambir 2 – 5 lobus pada inti yang heterokromatik, persentase normal dalam darah putih sekitar 62 %, neutrofil dewasa berukuran 12 – 15 mm, plasma mengandung 2 granul yakni spesifik granul dan asidofilik granul. Fungsi neutrofil yaitu sebagai respon terhadap infeksi karena neutrofil dikenal sebagai inti pertahanan pertama (first line of defense), dan fagositosis.

Sedangkan pada eosionofil ciri-cirinya yaitu intinya bergelambir 2 (seperti kacamata), warna plasmanya merah, dan dikelilingi oleh butir-butir asidofil yang berukuran cukup besar 3 – 4 mm, dan persentase normal dalam darah putih sekitar 2,3 %.

Fungsi eosionofil yaitu berperan aktif dalam mengatur alergi akut dan proses pendarahan, pelepasan serotonin dari sel tertentu, melepas zinc yang menghalangi agregasi trombosit, migrasi makrofag, menghancurkan kompleks antibody dan mendetoksifikasi beberapa substansi pencetus peradangan yang dilepaskan oleh sel mast. Dan yang terakhir pengamatan tentang basofil, ciri-cirinya yaitu inti 2 gelambir tidak beraturan , plasmanya biru tua, persentase normal dalam darah putih sekitar 0,4 %, dan sulit ditemukan dalam darah anjing dan kucing. Fungsi basofil yaitu untuk membangkitkan reaksi hipersensifitas dengan sekresi mediator yang bersifat vasoaktif. Dari pemeriksaan hapusan darah dapat dperoleh beberapa hal yaitu:

neutrofil (40). Nilai normal 60-70 menandakan neutropenia

monosit (7). Nilai normal 3-10 menandakan normal

eosinofil (7). Nilai normal 2-10 menandakan normal

limfosit (55). Niali normal 12-30 menandakan lomfositosis

basofil (-)

band cell (-).

Dari pemeriksaan PCV, jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin kita bisa mengetahui nilai:

1. MCV (mean corpucular volume)

MCV adalah rata-rata sel darah merah yang dinyatakan dalam satuan fl(femtofilter).

MCV = PCV/ jumlah eritrosit x 10

= 20/3,01 x 10

= 66,45 fl (normal)

(MCV normal = 60-77 fl)

2. MCHC (mean corpucular haemoglobin concentration)

Merupakan proporsi hemoglobin pada setiap sel darah yang dinyatakan dalam satuan %.

MCHC = Hb/PCV x 100

= 8,9/20 x 100

= 44,5 %(meningkat)

(MCHC normal = 32-36%)

INTERPRESTASI

Patofisiologi Anemia secara Umum

Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit (red cell mass) sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang cukup kejaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity). Secara praktis anemia ditunjukkan oleh penurunan kadar hemoglobin, hematokrit, atau hitung eritrosit (red cell count). Tetapi yang paling lazim dipakai adalah kadar hemoglobin, kemudian hematokrit. Anemia bukanlah suatu kesatuan penyakit tersendiri, tetapi merupakan gejala berbagai macam penyakit dasar (underlying disease). Gejala anemia yang timbul merupakan manifestasi dari anoksia organ dan mekanisme kompensasi tubuh terhadap daya angkut oksigen ke jaringan.

Gejala klinis anemia yaitu rasa lemah, lesu, cepat lelah, telinga mendenging (tinitus), mata berkunang-kunang, kaki terasa dingin, sesak napas dan dispepsia. Pada pemeriksaan pasien tampak pucat, yang mudah dilihat pada konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan dan jaringan dibawah kuku

Anemia normositik adalah istilah umum untuk semua jenis anemia ditandai dengan nilai MCV yang normal adalah 76-100 fl , dengan sel lebih kecil (<76 fl) digambarkan sebagai mikrositik sel dan lebih besar (> 100 fl) sebagai makrositik. Sedangkan hiperkromik ditandai dengan sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu banyak. anemia hiperkromik (kandungan dan warna hemoglobin meningkat).

Neutropenia adalah kelainan hematologi yang ditandai dengan jumlah neutrofil yang menurun. Dalam darah tipe yang paling penting dari sel darah putih. Neutrofil biasanya 50-70% dari sel darah putih yang beredar dan berfungsi sebagai pertahanan utama terhadap infeksi dengan menghancurkan bakteri dalam darah. Oleh karena itu, pasien dengan neutropenia lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan, tanpa perhatian medis segera, kondisi ini mungkin menjadi mengancam nyawa (sepsis neutropenia).
Neutropenia dapat akut atau kronik tergantung pada durasi penyakit. Seorang pasien telah
mengalami neutropenia kronis jika kondisi berlangsung selama lebih dari 3 bulan. Hal ini kadang-kadang disebut dengan istilah leukopenia ("defisit dalam jumlah sel darah putih"), sebagai leukosit neutrofil merupakan paling banyak, tetapi neutropenia lebih tepat dianggap sebagai subset dari leukopenia secara keseluruhan.
Ada banyak penyebab dari neutropenia yang kasar dapat dibagi antara baik masalah dalam produksi sel-sel oleh sumsum tulang dan perusakan sel-sel di tempat lain dalam tubuh. Pengobatan tergantung pada sifat penyebabnya, dan penekanannya ditempatkan pada pencegahan dan perawatan infeksi.
Penyebab netropenia dapat dikelompokkan atas 3 golongan yaitu meningkatnya pemindahan netrofil dari peredaran darah, gangguan pembentukan netrofil dan yang terakhir yang tidak diketahui penyebabnya.Termasuk dalam golongan pertama misalnya umur netrofil yang memendek karena drug induced. Beberapa obat seperti aminopirin bekerja sebagai hapten dan merangsang pembentukan antibodi terhadap leukosit. Gangguan pembentukan dapat terjadi akibat radiasi atau obat-obatan seperti kloramfenicol, obat anti tiroid dan fenotiasin; desakan dalam sum-sum tulang oleh tumor. Netropenia yang tidak diketahui sebabnya misal pada infeksi seperti tifoid, infeksi virus, protozoa dan rickettisa; cyclic neutropenia, dan chronic idiopathic neutropenia.

Limfositosis adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan jumlah limfosit lebih dari 8000/µl pada bayi dan anak-anak serta lebih dari 4000/µl darah pada dewasa. Limfositosis dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti morbili, mononukleosis infeksiosa; infeksi kronik seperti tuberkulosis, sifilis, pertusis dan oleh kelainan limfoproliferatif seperti leukemia limfositik kronik dan makroglobulinemia primer.

DIAGNOSA

Anemia normositik hyperkromik dengan neutropenia dan lomfositosis yang disebabkan oleh bakteri.

DAFTAR PUSTAKA

Dharmawan, S. et all. 2000. Penuntun Praktikum Hematologi Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Denpasar.

Dharmawan, S. 2002. Pengantar Patologi Klinik Veteriner. Hematologi Klinik. Cetakan II. Penerbit Universitas Udayana Kampus bukit Jimbaran. Denpasar.

Guyton & Hall, 1997. FISIOLOGI KEDOKTERAN. Ed. 9 – Jakarta : EGC


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar